Hel, apa yang baru saja saya lakukan ? saya menangis lagi ? dan bukan menangis yang hanya meneteskan satu dua tetes air mata saja. Tapi menangis yang membuat dada saya sesak, menangis yang membuat saya kehilangan sebagian kesadaran, menangis yang memakan semua energy saya yang tersisa saat ini.
Kenapa saya bisa begini (lagi) Hel ?
Padahal kan ini sudah yang lama sekali, pemicunya pun terlalu sederhana, hanya karna dapat sms dari antii yang isinya. Entahlah Hel. Saya kenapa begini (lagi) ? saya plinplan lagi, saya aneh lagi.
Antii bilang begini ke saya Hel. Katanya metode saya untuk menghilangkan sesuatu yang pernah ada itu ndak benar, katanya dengan –memaksakan- perasaan, segala sesuatunya tidak akan pernah baik, dan katanya kesalahan terbesar yang saya lakukan adalah, saya yang tidak pernah mau berkoordinasi dengan apa yang dikatakan oleh hati saya.
Saya selama ini hanya mau berpikiran bahwa saya telah menghapus itu, tapi saya sebenarnya saya tidak pernah mau mendengar hati saya yang (katanya) menjerit ingin mengatakan betapa tertekannya jiwa saya dengan metode saya yang seperti ini.
Saya seperti tersentil Hel. Saya sepertinya terlalu egois terhadapa diri saya sendiri. Saya seakan mau enak-nya saja tanpa pernah berpikir kalau sebenarnya dampak negative dari metode ini akan menyulitkan suatu saat nanti dalam kehidupan saya.
Lalu harus bagaimana Hel ?
Apa harus pake prinsip let it flow lagi ? saya ndak mau Hel. Saya ndak mau hanya membiarkan segala sesuatunya mengalir saja. Ndak mau. Saya harus melakukan sesuatu supaya segala proses untuk melupakan itu bisa berjalan secepat mungkin dengan hasil yang sebaik mungkin.
Cuman mungkin yang perlu saya perhatikan saya ndak perlu terlalu memaksakan hati saya.
Kasian hati saya Hel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar