Sebenarnya saya yang terlalu emosional dan juga egois. Maksud saya, saya terkadang tiba-tiba lepas kendali. Dan sifat yang satu ini hanya mau muncul pada kondisi tertentu, hanya pada orang yang sangat sayangi. Dan parahnya dapat menghancurkan salah satu pondasi keinginan saya menjadi kepingan yang tidak bisa diperbaiki lagi.
Saya terkadang mampu berbicara begitu menusuk terhadap orang yang sangat mengecewakan saya (yang sebetulnya sangat saya sayangi). Susah memang, bagi yang tidak (mencoba) mengerti dan mengenali saya, akan menganggap saya terlalu egois. Tapi sungguh dalam hati, saya selalu menyesal dan menghabiskan waktu saya sebelum tidur untuk menangis betapa mudahnya saya menyakiti orang yang saya sayangi.
Saya terkadang mampu bersikap begitu cuek dan (sangat) benci pada seseorang hanya karena cemburu dan marah diam-diam bila orang yang saya sayangi mengkhianati saya (padahal kami tidak ada hubungan apa-apa -___- betul-betul cemburu buta), dan tidak akan bersedia bila ditanyai alasan mengapa saya tiba-tiba berubah. Saya akan berlagak cuek, enggan bicara,menghindar, dan mengeluarkan semua aura kebencian yang mampu saya keluarkan dari dalam tubuh saya. Saya tidak tau mengapa saya bisa seperti itu, tapi selalu saja, setelah melakukannya dan melihat dia kecewa malah membuat saya teriris dan ingin sekali memperbaikinya. Tapi lagi-lagi saya terlalu emosional dan egois.
Terkadang jika saya sudah sadar dan memendam semua egoisme saya, saya akan mencoba meminta maaf, tapi sialnya saya yang terlalu emosional tidak bisa menutup mulut jika dia terlihat begitu bahagia karna saya yang meminta maaf duluan, saya akan kembali meminta maaf lagi dan ujung-ujungnya teman saya lah yang akan mencoba menyampaikan perasaan saya kepada orang yang saya sayangi tersebut.
Saya juga terkadang sering salah cara menyampaikan apa yang saya mau. Dalam banyak keadaan, biasanya saya akan selalu berpikir. Tapi tidak untuk orang yang sangat saya sayangi. Saya selalu saja berbicara dengan emosional dan bersikap egois. Saya tidak bisa tidak begitu dan entah bagaimana caranya agar semuanya jadi terhenti saja. Terkadang untuk menyadarkan orang lain akan betapa sangat sayangnya saya pada mereka, saya sering salah cara dan malah membuat hubungan kami yang (sebenarnya) baik malah menjadi betul-betul hancur.
Saya terlalu emosional, sifat ini mengaburkan saya untuk berpikir rasional dan tidak bersikap egois. Sifat ini membuat saya kehilangan orang yang sungguh sangat saya sayangi. Dan lagi-lagi, karena sifat saya yang egois, membuat saya terlihat seperti mampu berdiri dengan tegaknya, mampu tidur dengan pulas tanpa menangis sebelumnya, tidak menangis apabila sedang sendiri dan tersenyum ikhlas jika melihat dia yang (sepertinya) telah mampu menghapus saya. Padahal tidak , sebenarnya tiap saat di saat saya sempat, saya akan memikirkan cara memperbaiki segalanya, semuanya sudah tersusun, teman-teman saya pun dengan senang hati ingin membantu saya. Tapi sayang Hel, lagi-lagi saya terlalu egois untuk mengulurkan tangan saya terlebih dahulu dan mengakui bahwa saya memang tersiksa tanpa dia.
Andai bisa saya menghapus keegoisan ini Hel.
Andai bisa saya sekali saja berkata rasional dan mampu mengendalikan emosi saya, mungkin ini semua tidak akan terjadi Hel.
Tapi, semakin saya berusaha mencari cara menghapus egois dan emosional ini, semakin menjadinya saya, dan semakin merusak semuanya saja.
Hel, andai saya bisa T.T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar